0

Bagaimana dengan Donor Darah di Bulan Ramadhan ??

Donor Darah Tidak Membatalkan Puasa

Nah, untuk donor darah di bulan Ramadhan menurut uraian dibawah ini tidak membatalkan puasa, namun menerima Tranfusi Darah dapat Membatalkan Puasa. Yuk, dibaca aja langsung biar lebih jelas nya J

Anggapan bahwa donor darah membatalkan puasa masih ada pada sebagian kaum muslimin, namun yang pendapat yang paling kuat –insyaAllah- donor darah tidak membatalkan puasa. Adapun transfusi menerima darah maka membatalkanpuasa.

Berikut sedikit pembahasannya:

Donor darah tidak membatalkan puasa Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama, pendapat yang lebih kuat adalah tidak membatalkan puasa

Pendalilan:

Diqiyaskan dengan berbekam yang menurut pendapat terkuat, bekam tidaklah membatalkan puasa.

Berikut penjelasan lebih rinci:

Pendapat yang menyatakan batalnya puasanya ketika berbekam:

Ini adalah pendapat mazhab Hanabilah, Ishaq, Ibnu Al-Mundzir dan sebagian besar fuqaha Ahli Hadits, dan menjadi pilihan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

“orang yang membekam dan dibekam itu batal puasanya”

Pendapat yang menyatakan tidak batal puasa ketika berbekam:

Ini adalah pendapat Mazhab Jumhur ulama salaf(dahulu) dan khalaf(sekarang)

Pendalilan sebagai berikut:

  1. Hadits tentang batalnya berbekam mansukh (dihapuskan)

Terdapat hadits riwayat Syaddad bin Aus disebutkan bahwa pada tahun penaklukkan kota mekkah, tepatnya tanggal kedelapan belas bulan Ramadhan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati seorang laki-laki yang sedang berbekam lalu beliau bersabda, “orang yang membekam dan dibekam batal puasanya”.

Selanjutnya Ibnu Abbas bersama-sama beliau melaksanakan Haji Wada’. Pada saat haji ini beliau berbekam dalam keadaan ihram dan berpuasa. Apabila tindakan bekam rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilakukan pada musim haji Wada’, maka riwayat ini menjadi naasikh/penghapus riwayat sebelumnya. Karena setelah kejadian itu, beliau tidak lagi menjumpai Ramadhan. Beliau wafat pada bulan Rabi’ul Awwal.

  1. Ada rukhshah(keringanan) mengenai bekam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan (rukhshah) bagi orang yang berpuasa untuk mencium istrinya dan berbekam.”

  1. Makruh jika melemahkan badan

Maka hukumnya tidak sampai mengharamkan. dikuatkan riwayat lain dalam shahih Bukhari dari Anas bin Malik,“Apakah kalian tidak menyukai berbekam bagi orang yang berpuasa?”

Anas mengatakan, “Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemah.”

Catatan tambahan:

Ada juga pendapat yang merinci yaitu jika darah yang didonorkan dalam jumlah besar kemudian memperlemah tubuh maka membatalkan puasa, sedangkan jika darah yang didonorkan sedikit maka tidak membatalkan.

Pertanyaan:

“Apa hukum mendonorkan  darah pada siang hari bulan Ramadhan?

Jawab:

“Jika seseorang mendonorkan darahnya pada siang hari bulan Ramadhan maka membatalkan puasanya.

(rincian pertama) jika darah yang didonorkan dalam jumlah besardan memberikan pengaruh padanya (kelemahan tubuh), maka membatalkan puasa.

(rincian kedua) jika dalam jumlah kecil maka tidak membatalkan puasa.”

Kenyataannya bahwa orang yang melakukan donor darah tidak merasa lemah sekali. Silahkan bertanya kepada mereka yang sudah rutin melakukan donor darah. Merasa lemah setelah donor darah mungkin bisa jadi karena syarat-syarat menjadi donor tidak terlalu terpenuhi, misalnya tensi darah agak rendah, Hemoglobin agak rendah dan lain-lain. Atau bisa jadi ia agak takut dan phobia dengan darah dan suntikan. Bahkan terkadang orang yang mendonorkan darahnya merasa lebih segar dari sebelumnya, terutama mereka yang rutin melakukan donor darah. Kecuali beberapa orang yang melakukan donor darah pertama kali mungkin merasa agak lemah sedikit (tidak sampai lemah sekali dan kepayahan) . Maka donor darah tidak membatalkan puasa. Lebih amannya lakukan donor darah ketika malam hari misalnya setelah shalat tawarih. Selain tubuh juga sudah segar karena mendapat makanan berbuka, Ini juga bisa keluar dari perselisihan para ulama. Wallahu a’lam.

Menerima Transfusi Darah Membatalkan Puasa

Menerima darah saat transfusi jelas membatalkan puasa. Karena darah pada hakikatnya adalah tempat sari- sari makanan, terutama pada bagian yang disebut plasma darah. Menerima darah sama hakikatnya dengan mendapatkan sari-sari makanan yang ini disamakan dengan makan dan minum yang membatalkan puasa. Sebagaimana infus sari-sari makanan (misalnya infus glukosa dan infus elektrolit), maka ini juga hakikatnya sama dengan makan dan minum. Karena ini adalah tujuan dari makanan, yaitu bisa memberikan sari-sari makanan ke seluruh tubuh melalui darah. Sebagai bukti kita bisa melihat seseorang yang tidak makan dan minum selama beberapa hari karena penyakit yang dideritanya akan tetapi tetap bisa bertahan karena mendapat infus. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,“Suntikan/infus yang bisa memberikan energi makanan sehingga tidak membutuhkan makan dan minum, Jika dilakukan maka membatalkan puasa walaupun hakikatnya bukan perbuatan memakan dan minum.

Referensi :

Bahraen, Raehanul. 2014. Fikih Kesehatan Kontemporer Terkait Puasa dan Ramadhan. Yogyakarta:Kesehatan Muslim

6

Suntikan di Bulan Ramadhan ???

Suntikan BISA membatalkan Puasa Ga sih???

Terkadang dizaman yang sudah serba canggih ini, banyak alat kesehatan atau pelayanan kesehatan yang membuat kita ragu saat kita menjalani puasa di Bulan Suci Ramadhan. Salah satu contohnya yaitu sutikan. Banyak diantara kita yang masih merasa kebingungan mengenai suntikan dapat membatalkan puasa atau tidak. Ini dia sedikit informasi dan pemaparan dari macam-macam suntikan yang bisa atau tidak membatalkan puasa ….

Jenis suntikan ada 3, yaitu:

  1. Suntikan melalui kulit (intra cutan) misalnya suntikan Insulin
  2. Suntikan melalui otot (Intra muscular) misalnyasuntik antihistamin dan beberapa jenis
  3. Suntikan melalui pembuluh darah (intra vena) misalnya obat antinyeri, cairan infuse, dan vitamin.

Dan berdasarkan materi yang disuntikkan ada 2 jenis, yaitu:

  1. Suntikan bukan makanan misalnya obat antinyeri dan antihistamin.
  2. Suntikan yang mengandung makanan atau zat makanan misalnya suntikan glukosa atau infus elektrolit.

Nah, berdasarkan pembagian jenis suntikan di atas, hukum mengenai suntikan akan dijelaskan sebagai berikut:

  1. Suntikan melalui kulit (Intra cutan)

Suntikan melalui kulit tidak  membatalkan puasa, karena tidak ada saluran khusus ke organ pencernaan atau tidak menimbulkan energi dan tidak membuat kenyang. Kaidah umumnya yang lebih shahih mengenai pembatal puasa adalah bukan semata-mata sesuatu yang masuk pada organ pencernaan akan tetapi bisa menguatkan badan dan hakikatnya sama dengan makan dan minum. Dr. Ahmad bin Muhammad Al-Khalil hafidzahullah berkata,  “Alasan membatalkan bukanlah semata-mata sampainya sesuatu (makanan) menuju lambung (saluran pencernaan) akan tetapi bisa menguatkan badan dan membuat kenyang (menghasilkan tenaga).” Syaikh Al-Utsaimin  rahimahullah menukil perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengenai kaidah ini,  “Tidak batal dengan suntikan (perkataan beliau masih global, pent), karena suntikan bukanlah “makan dan minum” baik secara bahasa maupun ‘urf /kebiasaan. Tidak ada dalil dalam kitab dan sunnah bahwa kaidah hukum (membatalkan) adalah masuknya sesuatu ke lambung. Seandainya tetap kita katakan, semua yang masuk ke lambung dengan cara apapun membatalkan, akan tetapi Al-Quran dan Sunnah menunjukkan pembatal itu adalah sesuatu yang sudah spesifik yaitu makan dan minum.” Jadi suntikan melalui kulit tidak membatalkan puasa karena tidak mengeyangkan dan tidak memberi energi.

  1. Suntikan melalui otot (Intramuscular)

Ini juga tidak membatalkan puasa karena sama dengan suntikan melalui kulit, yaitu tidak ada saluran khusus ke organ pencernaan atau tidak menimbulkan energi dan tidak mengenyangkan. Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata, “Adapun suntikan pada otot, bukan pada pembuluh darah maka semoga tidak membatalkan puasa.”

Berikut adalah Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (Komite Fatwa di Saudi), “Boleh berobat dengan suntikan di lengan atau pembuluh darah, bagi mereka yang puasa di siang hari bulan Ramadhan. Namun, orang yang sedang berpuasa tidak boleh diberi suntikan nutrisi (infus) di siang hari Ramadhan karena ini sama saja dengan makan atau minum. Pemberian suntikan infus disamakan dengan teranggap cara untuk membatalkan puasa Ramadhan. Jika memungkinkan untuk melakukan suntik di lengan atau pembuluh darah di malam hari maka itu lebih baik.”

  1. Suntikan melalui pembuluh darah (intra vena)

Suntikan melalui pembuluh darah (intra vena) dirinci sebagai berikut :

  1. Suntikan yang mengandung bahan makanan misalnya suntik vitamin C dan suntik infus, ini membatalkan puasa.
  2. Suntikan yang tidak mengandung bahan makanan misalnya suntik antinyeri dan antihistamin, ini tidak membatalkan puasa.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahberkata,“Suntikan pengobatan ada dua macam:

  • Bisa memberikan tenaga dan mengeyangkan serta bisa menggantikan makan dan minum, maka ini semakna dengan pembatal puasa.
  • Tidak bisa memberikan tenaga dan mengeyangkan serta bisa menggantikan makan dan minum, maka ini tidak membatalkan puasa. Karena tidak didapati nash (dalil tegas) secara lafadz ataupun makna akan hal ini. Suntikan bukanlah makan dan minum dan tidak pula semakna dengan makan dan minum.”

Catatan:

Jika ada yang mengatakan meskipun suntikan intavena yang tidak mengandung bahan makanan, akan tetapi ada cairan yang masuk, misalnya suntikan ketorolac 1 ml atau ranitidin 2 ml. Maka kita katakan bahwa cairan yang masuk lewat suntik pembuluh darah tersebut sangat sedikit yaitu hanya 1 ml atau 2 ml. Hal ini sebagaimana berkumur-kumur ketika bersiwak. Otomatis pasti ada sisa cairan/air ketika berkumur-kumur yang menempel di lidah, rongga mulut dan gigi. Terkadang sisa cairan ini bercampur dengan air ludah dan bisa jadi masuk ke kerongkongan. Akan tetapi karena jumlahnya sedikit maka tidak teranggap. Demikian juga cairan yang masuk sebanyak 1 ml atau 2 ml saja. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sering bersiwak dan berkumur-kumur ketika berpuasa.

Kesimpulan umum:

Kaidah umum yang disampaikan oleh DR. Ahmad bin Muhammad Al-Khalil hafidzahullah, beliau berkata,“Pendapat terkuat mengenai suntikan adalah pendapat mayoritas ahli fikh kontemporer bahwa suntikan yang membuat kenyang/memberi tenaga bisa membatalkan puasa karena kuatnya dalil dan sesuai dengan tujuan syariat.”

referensi :

Bahraen, Raehanul. 2015. Panduan Ibadah Puasa Orang Sakit Di Bulan Ramadhan. Yogyakarta: Kesehatan Muslim

4

Sejarah Keperawatan dunia Islam

iuSeperti hal nya di Eropa, pada pertengahan abad VI masehi keperawatan juga berkembang di benua Asia. Tepatnya di Timur Tengah seiring dengan perkembangan agama Islam. Pengaruh agama Islam terhadap perkembangan keperawatan tidak terlepas dari keberhasilan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam ke berbagai pelosok negara. Pada masa ini di jazirah Arab berkembangan pesat ilmu pengetahuan seperti ilmu pasti, ilmu kimia, higiene dan obat-obatan. Hal ini menyebabkan keperawatan juga berkembang. Prinsip dasar keperawatan seperti pentingnya menjaga kebersihan diri (personal hygiene), kebersihan makanan, air dan lingkungan berkembang pesat. Dan tokoh keperawatan yang terkenal dari dunia Arab pada masa ini adalah Rufaidah. Dan adapun masa-masa perkembangan keperawatan Islam dalam Islam adalah:

  • Masa Penyebaran Islam (The Islamic Periode 570-632 M)

    Rufaidah binti Sa’ad

Masa ini dikenal masa Rufaidah Seorang perawat pertama di zaman Rasulullah bernama lengkap “Rufaidah binti Sa’ad Bani Aslam Al-Khazraj”. Yastrib adalah tempat kelahirannya dan tinggal di Madinah, oleh karena itu Rufaidah merupakan kaum Ansar yaitu golongan yang pertama kali masuk islam di Madinah. Ilmu keperawatan yang ia pelajari didapatkan saat ia bekerja membantu ayahnya yang berprofesi sebagai dokter.

Rufaidah merupakan seorang perawat profesional di abad pertama Hijriah atau sekitar abad ke-8 SM dan di kisahkan sebagai perawat teladan baik dan bersifat empati. Selain itu Rufaidah juga seorang pemimpin, organisatoris, mampu memobilisasi serta memotivasi orang lain. Dan juga mampu mengajarkan ilmu keperawatan kepada perawat lain yang ia latih dan bekerja dengannya. Perawatan yang diberikan oleh Rufaidah secara holistik, tidak hanya masalah klinikal semata, namun masalah sosial yang mengakibatkan timbulnya berbagai jenis penyakit juga diatasi. Beliau adalah public health dan social worker yang menginspirasi para profesi perawat didunia Islam.

Saat perang Badar, Uhud, Khandaq, dan Khaibar beberapa kelompok wanita dilatih oleh Rufaidah untuk menjadi perawat dan menjadi sukarelawan yang merawat korban terluka akibat perang. Kemudian saat perang Khaibar, Rufaidah meminta izin untuk ikut dalam perang di garis belakang pertempuran agar dapat merawat pasukan Islam yang terluka dan Rasulullah pun mengizinkannya.

Dan saat keadaan aman atau kondisi damai, Rufaidah membangun tenda di luar Masjid Nabawi untuk merawat kaum muslimin yang sakit. Kemudian semakin berkembang dan berdirilah Rumah Sakit Lapangan, dan Nabi Muhammad SAW sendiri memerintahkan korban yang terluka untuk di larikan ke Rumah Sakit tersebut untuk mendapatkan perawatan.

Beberapa wanita muslim yang terkenal sebagai perawat adalah:

  1. Ku’ayibat
  2. Aminah binti Abi Qays Al Ghifari
  3. Ummu Atiyah Al Ansariyat
  4. Nusaibat binti Ka’ab Al Maziniyat.

Dalam beberapa literature sejarah islam mencatat beberapa nama yang bekerja bersama Rufaidah seperti :

  1. Ummu Ammara

Ummu Ammara dikenal juga sebagai Nusaibat binti Ka’ab bin Maziniyat. Dia adalah ibu dari Abdullah dan Habi, anak dari Bani Zayd bin Asim. Nusaibat dibantu suami dan anaknya dalam bidang keperawatan. Dia berpartisipasi dalam Perjanjian Aqabat dan Perjanjian Ridhwan juga andil dalam Perang Uhud dan perang melawan Musailamah di Yamamah bersama anak dan suaminya. Dia terluka 12 kali, tangannya terputus dan dia meninggal dengan luka-lukanya. Dia juga terlibat dalam Perang Uhud, merawat korban yang terluka dan menyuplai air juga digambarkan berperang menggunakan pedang untuk membela Nabi.

  1. Aminah
  2. Ummu Ayman
  3. Safiyat
  4. Ummu Sulaiman
  •  Al-Razi (Post Prophetic Era 632-1000 M)

Di masa ini ada perawat diberi nama “Al Asiyah” dari kata Aasa yang berarti mengobati luka, dengan tugas utama memberikan makanan, memberikan obat, dan rehidrasi. Dr Al-Razi yang digambarkan sebagai seorang pendidik, dan menjadi pedoman yang juga menyediakan pelayanan keperawatan. Dia menulis dua karangan tentang “The Reason Why Some Persons and the Common People Leave a Physician Even if He Is Clever” dan “A Clever Physician Does Not Have the Power to Heal All Diseases, for That is Not Within the Realm of Possibility.”

  • Masa Late to Middle Age (1000-1500 M)

Pada masa ini pembangunan Rumah Sakit dengan baik di negara-negara Arab. Selain itu mulai juga dikenalkan perawatan pada orang sakit. Dan yang unik dan banyak ditiru oleh Rumah Sakit modern sampai saat ini adalah pemisahan ruangan antara perempuan dan laki-laki serta perawatan yang diberikan jika pasien perempuan dirawat oleh perawat perempuan, begitupun dengan pasien laki-laki diberikan perawatan oleh perawat laki-laki (Donahue, 1985, Al Osimy, 2004) 2). orang-orang barat banyak yang belajar kedokteran ke negara timur tengah.

  • Masa Modern ( Early Leaders in Nursing’s Development 1500 – sekarang )

masa inilah perawat2 asing dari dunia barat mulai berkembang dan mulai ada dan yang banyak kita kenal sekarang yaitu Florance Nightingale. Tapi pada masa ini seorang perawat bidan muslimah pada tahun 1960 yang bernama Lutfiyyah Al-Khateeb mendapatkan Diploma Keperawatan di Kairo kembali ke negaranya, dan di tahun 1960 dia membangun Institusi Keperawatan di Arab Saudi.

Ditandai juga dengan banyaknya ekspatriat asing (perawat asing dari Eropa, Amerika dan Australia, India, Philipina) yang masuk dan bekerja di RS di negara-negara Timur Tengah. Bahkan dokumen tentang keperawatan di Arab, sampai tahun 1950 jarang sekali, namun di tahun 1890 seorang misionaris Amerika, dokter dan perawat dari Amerika telah masuk Bahrain dan Riyadh untuk merawat Raja Saudi King Saud. (Amreding, 2003) 2).

Semoga setelah kita membaca sejarah keperawatan Islam diatas dapat menambah semangat dan menambah motivasi untuk belajar lebih baik. menjadi calon perawat profesional seperti Rufaidah yang melakukan perawatan secara holistik, dan sahabat sahabat Rasulullah lainnya yang tidak hanya memiliki satu keahlian seperti Al-Razi. Ataupun bisa seperti Lutfiyyah Al-Khateeb yang mencari ilmu keperawatan ke luar daerahnya dan pulang membuat Rumah Sakit dan mengabdi untuk daerahnya. Insya Allah ..

Referensi:

Majalah Kesehatan Muslim Prima Saat Ramadhan. From https://books.google.co.id/books?id, 16 Juni 2014

Wulandari, indah. Mujahidah: Rufaidah binti Sa’ad, Perawat Islam Pertama.Republika.16 Juni 2015

Husin, Ma’rifin. 2001. Keperawatan Islam. Jakarta: UMJ Press

Syauqi,Ahmad. 2010. Rufaidah: Kisah Perawat Wanita Pertama dalam Sejarah Islam.Navila

Kusnanto. 2003. Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional: Jakarta. EGC

0

Halo dunia!

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika Anda menyukai, gunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengapa Anda memulai blog ini dan apa rencana Anda dengan blog ini.

Selamat blogging!